Hiki's Lifelog

note

Setelah gagal mendapatkan Museum Passport di Gramedia Matraman kemarin sore, hari ini saya memutuskan untuk menguji keberuntungan saya di tempat lain. Singkat cerita, kalau kalian penasaran seperti apa hasilnya (dan malas membaca, tak apa), saya akhirnya berhasil mendapatkan buku tersebut di sana.

Awalnya, saya ingin menyerah saja cari passport yang sedang viral di kalangan stamp otaku ini, namun entah kenapa saya masih penasaran sekali. Setelah memikirkan dalam-dalam sepanjang malam (niat sekali), saya memutuskan pergi ke Galeri Nasional Indonesia untuk mencari Museum Passport ini.

Alasannya sederhana. Pertama, Galeri Nasional Indonesia (atau Galnas) masih relatif dekat dari rumah saya dibandingkan tempat lain di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya Indonesia (MCB) di area Jakarta. Saya bisa sampai di sana dalam waktu kurang dari satu jam jika naik TransJakarta. Kedua, sebagai orang yang cukup sering lewat sekitaran Galeri Nasional, tempat ini cukup sepi pengunjung, jadi kemungkinan saya bisa dapat Museum Passport di sana cukup besar (karena sedikit saingan). Ketiga, karena Galeri Nasional masuk ke dalam bagian dari Museum dan Cagar Budaya Indonesia (MCB), jadi kemungkinan saya bisa dapat buku ini cukup besar.

Dan sekitar jam 12 siang, saya pun berangkat ke Galeri Nasional.

Untuk sampai ke Galeri Nasional, kalian bisa naik TransJakarta koridor 2 (ke arah Pulo Gadung) dan turun di Halte Gambir 2. Dari Gambir 2, kalian tinggal berjalan sekitar lima menit saja untuk sampai ke Galeri Nasional.

Sesampainya di depan Galeri Nasional, kalian masuk saja dan jalan ke arah Mushola. Di depan Mushola, terdapat toko (sayangnya tanpa papan nama) yang menjual buku, kartu pos, hingga gantungan kunci di sana. Masuklah ke dalam toko tersebut, karena di sanalah tempat untuk membeli Museum Passport dan juga stempel-stempel dari Galeri Nasional diletakkan. Kalau masih bingung dengan penjelasan saya ini, kalian tanya saja petugas atau security di depan Galeri Nasional sesampainya di sana, dengan senang hati mereka bakal bantu kalian.

Begitu masuk ke dalam toko, Museum Passport dengan jelas ditampilkan di meja, menandakan bahwa mereka punya stok bukunya. Akhirnya. Setelah mendapatkan buku serta warna yang saya inginkan, saya pun langsung membayarnya ke kasir.

Penampakan Museum Passport Stamp Book

Tak lupa, saya pun membeli satu set kartu pos di sini dengan harga 50 ribu Rupiah (isi 2-3 kartu pos).

Kartu pos yang dijual di Galeri Nasional

Setelah bayar ke kasir, tibalah untuk mengecap buku yang baru dibeli ini dengan cap dari Galeri Nasional Indonesia, untuk menandakan kalian telah berkunjung ke sini. Di Galeri Nasional ini, telah disediakan enam cap yang kalian bisa pakai di Museum Passport atau di jurnal lain milik kalian.

Stempel dari Galeri Nasional Indonesia, yang berada di dalam Toko Galnas

Kesan saya terhadap Museum Passport ini adalah harganya yang masih cukup mahal (bagi saya), sekitar 81 ribu Rupiah (89 ribu Rupiah kalau kalian beli di Gramedia). Selain itu walau kertasnya agak tipis, namun tinta cap tak begitu tembus ke halaman berikutnya, hanya saja tinta cap terasa lambat sekali keringnya di kertas Museum Passport ini, jadi saya harus meniup-niup agar kering (atau kalian bisa siapkan kertas HVS atau tissue untuk dipakai menyerap kelebihan tintanya).

Kira-kira beginilah cap dari Galeri Nasional yang saya dapatkan hari ini:

Cap dari Galeri Nasional Indonesia

Dengan demikian, maka berakhirlah pencarian buku ini dan juga dimulainya petualangan saya untuk mencari kepingan pengetahuan, sejarah dan budaya di museum-museum serta cagar budaya yang ada di Indonesia ini.

#Note #StampHunting

Kemarin malam, ketika sedang scrolling sosial media, saya menemukan satu hal yang menarik perhatian saya: pihak Museum dan Cagar Budaya Indonesia merilis Museum Passport. Singkat cerita, dengan membeli buku ini seharga 81 ribu Rupiah, kalian bisa mendapatkan benefit khusus berupa voucher gratis masuk museum, serta dapat mengumpulkan stempel-stempel khusus yang disediakan oleh pihak museum dan cagar budaya di seluruh Indonesia, dan ditaruh di buku tersebut sebagai kenangan perjalanan. Dalam post akun Instagram Museum Nasional Indonesia, buku ini bisa didapatkan di unit museum yang dikelola MCB, Gramedia Matraman, Gramedia Melawai Jalma yang berada di Blok M, serta di situs gramedia.com.

Penampakan buku Museum Passport

Tadi sore, saya pun pergi ke Gramedia Matraman dengan niat membeli buku tersebut (karena di gramedia.com sudah habis terjual). Sesampainya di sana, saya diberitahu oleh petugas kalau buku Museum Passport sudah habis terjual, dan mereka juga tak dapat memastikan kapan buku tersebut bakal ada kembali.

Ya sudah, memang nggak ditakdirkan saya ikut-ikutan FOMO beginian. Mau ke Blok M juga rasanya sudah hilang niat, jadi saya pun langsung pulang ke rumah.

Tak apa nggak punya buku Museum Passport tersebut, setidaknya saya masih ada buku note book A6 polos seharga 5000 Rupiah yang bisa saya pakai buat koleksi stempel dari tempat-tempat yang saya kunjungi nantinya.

#Note #StampHunting

Hari ini adalah hari di mana saya memulai rencana saya untuk rakit PC.

Alasan utama saya ingin rakit PC adalah saya ingin sekali bermain Monster Hunter World dan Monster Hunter Wilds. Dangkal sekali alasan saya, bukan?

Saya tahu rakit PC di saat seperti ini memang sulit, apalagi harga RAM serta SSD saat ini nggak ngotak mahalnya. Maka dari itu, saya berencana nyicil beli parts-partsnya mulai dari parts yang mudah didapat (dan garansinya berlaku lama sejak dibeli) hingga yang termahal, seperti RAM dan GPU, satu per satu.

Yah, semoga rencana ini dapat berjalan dengan lancar. Amin.

#Note #RakitPC

Tulisan kali ini sedikit saja.

Sebetulnya, saya sudah pernah beberapa kali self-hosting, mulai dari self-host blog hingga self-host Mastodon (yang berakhir dalam beberapa bulan saja).

Kali ini, saya mulai self-host lagi dengan alasan yang simpel: hampir tak ada lagi service yang dapat saya percaya sekarang ini, terutama service dari korporasi besar. Sebelum saya memulai self-host, beberapa waktu yang lalu akun LinkedIn saya di-suspend dengan alasan yang tak jelas. Untuk membuka kembali akun saya, saya diminta untuk upload kartu identitas saya, yang tentu saja saya tak lakukan. Biarkan saja akun saya di-suspend selamanya.

Sekarang, untuk mengganti LinkedIn saya menggunakan GitHub (walaupun saya ingin pakai service yang lain) dan buat resume profesional serta portfolio simpel di sana (karena saya bukan orang IT). Saya taruh email, pengalaman kerja, organisasi, serta kegiatan volunteer saya di resume tersebut (hanya pakai HTML dan CSS). Untuk sosial media, saat ini saya pakai Akkoma dan WriteFreely (dari kak @yonle), serta GoToSocial dan BookWyrm yang saya install di VPS yang saya sewa. Jika kecepatan Internet di rumah saya sudah baik dan ada mini PC, mengkin saya akan coba self-host langsung dari rumah.

Rasanya kesemua service ini sudah cukup buat saya saat ini.

#Note

Sekitar tiga minggu yang lalu, instance BookWyrm yang saya pakai, Bookrastinating, tiba-tiba tidak bisa diakses. Awalnya, saya menunggu hingga dua hari, berharap mungkin servernya sedang down dan admin sedang sibuk IRL. Setelah dua hari menunggu dan tetap tak bisa diakses (mana belum back-up data di Bookrastinating pula), saya pun mencoba menghubungi admin, namun tak ada kejelasan kapan instance akan aktif kembali. Karena saya tak bisa menahan sabar lagi, saya pun memutuskan untuk kembali self-hosting. Saya pun menyewa VPS dengan RAM 4GB, lalu membeli domain dengan nama Nocojima.

Mengapa Nocojima?

Nocojima adalah gabungan dua kata dari “Noco” dan “Jima”.

Pertama, kata “Noco” atau のこ (Noko) diambil dari nama seorang podcaster asal Jepang favorit saya. Pada tahun 2018-2020 saya sering mendengarkan episode-episode podcast-nya Noco yang ia sampaikan dengan logat Kansai namun dapat dimengerti oleh saya yang level bahasa Jepangnya masih berada di level dasar (pada saat itu).

Kedua adalah kata “Jima” atau “Shima”, yang berarti pulau dalam bahasa Jepang. Kanji 島 (Shima) ini sebenarnya juga bisa dibaca とう (tou), namun karena kata “tou” terdengar aneh saat digabungkan dengan kata “Noco”, jadinya saya memutuskan untuk pakai kata “Jima” saja. Alasan lainnya kenapa saya pilih kata “Jima” adalah karena saya suka bermain Tomodachi Collection di Nintendo DS. Dalam gim Tomodachi Collection, sebuah karakter yang telah dibuat akan tinggal di sebuah pulau, lalu berinteraksi dengan karakter lainnya serta melakukan berbagai macam aktivitas di pulau tersebut. Seperti gim Tomodachi Collection, saya berharap dapat melakukan banyak aktivitas (dan bereksperimen) di server saya sendiri.

Apa yang saya install di Nocojima?

Untuk saat ini, saya hanya menginstall dua service di server saya: BookWyrm dan GoToSocial.

Kenapa hanya dua itu? Karena keterbatasan spek VPS (serta kondisi keuangan saya, dan kondisi Rupiah yang lesu). Setelah menginstall kedua service tersebut dan mengawasi pemakaian resource selama beberapa saat, didapati bahwa BookWyrm ternyata menggunakan RAM yang tidak sedikit (hingga 2GB sendiri). Kalau ditotal, kedua service tersebut memakan hampir 3GB dari kapasitas 4GB RAM.

Akhir kata

Akhir kata, untuk spek VPS yang saya punya sekarang, BookWyrm dan GoToSocial rasanya sudah cukup, kecuali jika nantinya saya mendapatkan VPS dengan spek lebih tinggi dengan harga terjangkau. Untuk blog, saya masih bisa pakai instance WriteFreely kak @yonle di PenWaltuh untuk sekarang.

Sekian dan terima kasih sudah membaca tulisan ini.

#Note

When I have no idea what to write on my blog, sometimes I will look at blogging challenges/prompts on the internet and participate. It's fun, and a great way to know deeper about other people, and even myself.

This time, I got a blogging challenges from forkingmad, and I will answer it here.

Do you floss your teeth?

Yes, sometimes, especially after I eat meat (chicken, beef, lamb).

I know I should floss my teeth more often, but I've really struggled with dental hygiene my whole life, and with onset of my depression since high school, it's only getting difficult.

Tea, coffee, or water?

COFFEE!! Without coffee, I'm feeling sleepy all day, so I really need something to help me stay awake and get my energy up. Beside coffee, the only thing I drink is mineral water. I don't really like tea and any drink that is sweet.

Footwear preference?

Running shoes, in most occasion. I'm fast-walker and running sometimes (to catch the public transportation or doing running exercise), so shoes with flexible soles and comfortable to wear is what I really wanted. In formal event, I use black loafer.

Favourite dessert?

Probably vanilla ice cream, and brownies with soft textures and not too sweet.

The first thing you do when you wake up?

Drink mineral water. I need to hydrate myself.

Age you'd like to stick at?

18, when I just graduated from high school and still choosing which university I want to attend. Still healthy and have so much energy, and can do long distance running and walking really well (I can run/walk more than 10-20K at that age).

How many hats do you own?

I don't have any.

Describe the last photo you took?

It's an afternoon scenery from Jalan Melawai, with vehicles and some restaurants that I took from Blok M MRT Station.

Worst TV show?

Any kinds of Sinetron.

Generally, I rarely watch TV. I can easily go a whole week or month without looking at television, but when I turn it on I only watch news and sports channel.

As a child, what was your aspiration for adulthood?

When I was a child, I really like drawing. I draw a lot when I was in elementary school through junior high. At that time, I really wanted to be a mangaka.

Then, everything changed when I was on third grade in junior high. I have a classmate who can draw realistic, and that make me feel that I was not talented enough.

When I was in high school, I really wanted to be an Architect. At that time, I really like to draw buildings and nature. I can do technical drawing really well (and got a good score, mostly). But when I was return to my home country after spent a year in Singapore for studying abroad, my parents don't want me to be an Architect, and wants me to be a Petroleum Engineer. So, here I am, spent almost seven years as a Petroleum Engineering student, and finally graduated and become a junior earth scientist.

#Note

Halo! Apa kabar?

Semoga kalian yang membaca tulisan ini baik-baik saja.

Setelah terakhir kali saya mengunjungi Kira Kira Art Market pada Oktober 2024 lalu, saya tak mengunjungi satu event-pun sama sekali. Tak terasa, sudah hampir dua tahun lamanya...

Dan pada kesempatan kali ini, di tahun 2026, saya memutuskan mengunjungi satu event. Event yang saya nantikan sebagai pecinta buku, yaitu Big Bad Wolf.

Singkat cerita, setelah sukses pada event BBW di Makassar beberapa minggu yang lalu, event Big Bad Wolf kali ini diadakan di ICE BSD City. BBW kali ini diadakan selama lima hari, yaitu dari tanggal 29 April hingga 3 Mei 2026. Hall yang digunakan pun cukup banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, meliputi Hall 1 hingga Hall 3a (total empat hall yang digunakan), di mana Hall 1 diisi oleh panggung dan tenant kuliner, dan Hall 2 hingga 3a yang diisi oleh ribuan, bahkan puluhan ribu buku dari berbagai genre dan bahasa. Oh iya, event ini buka selama 24 jam non-stop, loh, jadi kalian bisa datang tengah malam jika kalian mau.

Saya sendiri mengunjungi event BBW pada hari Rabu kemarin (29 April) di pagi hari, di mana banyak orang sibuk bekerja (dan saya menghindari orang banyak). Saya pergi ke BBW dengan menggunakan KRL green line dari stasiun Tanah Abang menuju stasiun Cisauk. Sesampainya di Cisauk, saya lanjut naik shuttle bus BSD yang berwarna oranye (serta gratis) dan turun di halte ICE BSD Hall 1.

Sesampainya saya di depan pintu Hall 3, saya pun menunjukkan preview pass saya kepada petugas, dan setelahnya saya pun diperbolehkan masuk ke dalam. Singkat cerita, untuk hari pertama BBW (29 April) hanya pengunjung yang memiliki preview pass atau pemilik produk BCA (seperti MyBCA, BCA Mobile, maupun produk BCA lainnya) sajalah yang dapat menikmati BBW pada hari itu.

Saatnya berbelanja!

Terakhir kali saya mengunjungi BBW adalah pada tahun 2019, di mana pada saat itu hall yang dipakai hanya ada dua (atau tiga, ya? Saya tak ingat pasti). Karena di tahun ini hall yang dipakai ada empat, jadi setelah berkeliling beberapa jam rasanya lelah sangat, jadi pastikan kalian bawa minum dan beristirahat jika mulai lelah berkeliling.

Di BBW edisi kali ini, sekitar 30 persen dari keseluruhan hall didominasi oleh buku anak, lalu diikuti dengan buku fiksi dan non-fiksi berbahasa Inggris, buku graphic novel/art, buku biografi, hingga buku-buku berbahasa Indonesia (baik itu dari penulis Indonesia maupun buku terjemahan). Harga buku pun juga bervariasi, mulai dari 30 ribu-an hingga satu juta Rupiah (bahkan lebih) untuk buku tipe collector edition seperti buku Harry Potter (misalnya).

Pada BBW kali ini, saya menargetkan untuk tak menggunakan uang saya lebih dari 500 ribu Rupiah, jadi saya memilih buku yang ingin saya beli dengan hati-hati.

Karena saya suka dengan buku fiksi, hal pertama yang saya lakukan setelah masuk ke dalam hall adalah memperhatikan rak buku fiksi dengan perlahan dan hati-hati, tak melewatkan satu buku pun. Buku fiksi di BBW kali ini dibagi menjadi beberapa bagian, mulai dari general, young adult, fantasy, mystery, hingga romance. Sungguh beragam. Setelah mengunjungi semua rak buku fiksi, saya pun berpindah ke rak buku non-fiksi, berharap dapat buku non-fiksi yang menarik, lalu pindah ke rak buku berbahasa Indonesia. Saya masuk ke dalam hall pada pukul 9 pagi dan selesai sekitar pukul 11:30, jadi sekitar dua setengah jam lamanya saya berkeliling.

Sebagian buku yang tersedia di BBW 2026 kali ini.

Setelah berkeliling dan memilih buku, saya pun membayar buku yang telah saya pilih. Kasir yang disediakan pun cukup banyak dan dibagi menjadi beberapa bagian, mulai dari mereka yang hanya membeli kurang dari 10 buku (seperti saya), mereka yang membayar dengan non-tunai, ataupun mereka yang membeli buku dalam jumlah banyak. Proses pembayaran berjalan cepat, teliti, dan efisien. Sebelum keluar, saya diberitahu oleh pihak kasir kalau saya bisa menukar struk dengan hadiah kecil di bagian customer service yang berada di dekat pintu keluar.

Setelah menyelesaikan pembayaran dan keluar dari hall, saya menukarkan struk saya dengan hadiah yang masih tersedia di customer service. Singkat cerita, karena saya memang tak beli banyak buku kali ini, jadi saya dapat hadiah pembatas buku (yeay!).

Pembatas buku yang saya dapat di BBW kali ini (lumayan!)

Setelah lelah berkeliling, saya pun mampir ke ke Hall 1 untuk beristirahat dan membeli minuman. Minuman yang saya beli adalah Es Kopi O dari tenant Kopi Siantar yang memiliki rasa yang cenderung ke pahit dibandingkan asam dan pas buat saya untuk melepas lelah. Sambil meminum kopi, saya memperhatikan panggung yang pada saat itu menampilkan kumpulan anak-anak pre-school bernyanyi lagu anak dalam bahasa Inggris. Setelah kopi saya habis, di pukul 12 saya pun mengakhiri kunjungan saya di BBW kali ini dan pulang ke rumah.

Kopi yang saya pesan, serta tampak hall yang menyediakan makanan dan minuman yang dihadiri pengunjung.

Secara keseluruhan, pengalaman BBW kali ini cukup menyenangkan, jauh lebih menyenangkan dibandingkan BBW yang terakhir kali saya kunjungi. Tiga hall penuh dengan buku-buku yang menurutku menarik, lalu satu hall yang berisi tenant kuliner yang ternyata tak sebanyak apa yang saya duga. Volunteer pun bekerja aktif dan penuh perhatian agar BBW berjalan dengan lancar. Betul-betul pengalaman yang menyenangkan. Kalau kalian suka dengan buku dan tak tahu ingin apa menghabiskan akhir pekan kali ini, event BBW ini bisa menjadi pilihan.

Sekian. Semoga saya bisa mengunjungi event Big Bad Wolf berikutnya di tahun depan.

#Note #BBW2026

Sebagai penikmat musik, apalagi nge-fans dengan suatu artis, pasti ada kalanya ingin sekali membeli tiket lalu menonton live concert artis favorit.

Saya pun demikian.

Sayangnya, di negara saya tinggal, penjualan serta distribusi tiket live concert betul-betul berantakan. Misalnya, si artis A mengumumkan live concert di sosial media mereka, lalu menjual tiket konsernya di Loket.com, lalu si artis B juga melakukan hal yang serupa, namun ia menjual tiket konsernya di Tiket.com, serta artis C bahkan sampai membuat website promosi serta penjualan tiket konsernya sendiri.

Betul-betul tersebar di banyak tempat. Tak terpusat.

Bagi orang yang jarang menonton konser (apalagi tak punya sosial media populer seperti saya), mencari event serta membeli tiket konser adalah sebuah kesulitan tersendiri.

Sekarang, bandingkan dengan Jepang.

Di Jepang, tiket event live concert serta event-event lain mudah ditemukan di eplus tickets. Bahkan, event-event besar dan terkenal seperti Fuji Rock Festival dan Summer Sonic dijual di sini. Tak hanya artis lokal, tiket konser dari artis luar negeri (yang mengadakan konser di Jepang) pun bisa didapatkan di sini. Pembayaran tiketnya pun juga mudah dijangkau, bahkan bisa dibayar di minimarket terdekat.

Bisa dibilang, distribusi tiket event live concert mereka dapat ditemukan di satu platform saja. Tak perlu susah-susah mencari.

Saya berharap suatu hari nanti, terdapat satu platform penjualan tiket yang memang khusus diperuntukkan untuk live concert (di negara ini). Artis pendatang baru, artis populer, hingga artis mancanegara dipersilahkan menjual tiket live concert-nya di platform tersebut, jadi fans tak perlu susah-susah mencari, serta pembayaran tiket konser pun mudah dijangkau banyak kalangan.

#Note

Dalam tiga bulan terakhir, Ayah saya harus menjalani perawatan di rumah sakit sebanyak empat kali.

Semua bermula di akhir Desember lalu. Saat itu Ayah saya merasakan nyeri pada pinggang belakangnya. Namun dalam beberapa minggu kemudian, rasa sakitnya menjadi semakin parah dan menjalar hingga bagian bawah tubuhnya. Saat ini Ayah saya kesulitan berjalan maupun duduk.

Selama empat kali dirawat, saya bersama adik dan Ibu bergantian menjaga Ayah yang terbaring di rumah sakit. Yang terakhir terjadi dua minggu yang lalu (dan akhirnya Ayah dapat keluar dari rumah sakit kemarin).

Di rumah sakit yang terakhir, Ayah saya dirawat di ruangan kelas tiga bersama 7 orang lainnya yang rata-rata berusia lansia. Yang membuat saya sedih adalah beberapa dari mereka yang mengisi ruangan tersebut tak ada satu orangpun yang mendampingi. Tak ada istri atau anak yang menemani mereka. Bahkan kerabat pun tak ada satupun yang menjenguk mereka. Terbaring sendirian, tak berdaya. Hanya suster dan dokter saja yang sesekali mengecek mereka, memastikan mereka baik-baik saja.

Dari wajah mereka, tampak raut kesedihan, kesepian, bahkan kehilangan semangat serta harapan untuk hidup. Berat rasanya hati saya ketika mereka yang seharusnya didampingi oleh istri, anak atau bahkan cucu mereka, malah dibiarkan sendirian seperti ini. Bahkan dua hari yang lalu, salah satu dari mereka dilarikan ke ruang ICCU karena sudah kehilangan kesadaran.

Entah bagaimana mereka menjalani hidup hingga berakhir seperti ini. Selama saya di ruang rawat sambil menjaga Ayah saya, saya melihat mereka semua, berharap agar mereka semua lekas membaik dan kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu digugurkan dalam rasa sakitnya. Mereka pun berhak mendapat pendampingan yang layak di akhir hayatnya, bukan menghadapinya dalam kesendirian.

#Note

Warning: mh-, suicide.

Seminggu yang lalu, saya mendapatkan sebuah email dari L yang mengatakan bahwa Z baru saja wafat. Dan yang begitu mengejutkan adalah, Z meninggal dengan cara mengakhiri hidupnya sendiri.

Selama beberapa hari setelah menerima email tersebut (bahkan hingga saat saya menulis ini), saya terdiam dan merasa hampa, tak membayangkan ataupun menyangka bahwa Z akan mengakhiri hidupnya sendiri.

Perkenalan saya dengan Z pertama kali adalah pada tahun 2010. Saat itu hari pertama saya bersekolah di negeri tetangga, Singapura. Sebagai wakil ketua kelas saat itu, ia (dan L, sebagai ketua kelas) mengajak saya untuk keliling sekolah dan mengenalkan seperti apa sekolah baru saya. Dan selama setahun saya berada di Singapura, saya dan Z menjadi cukup dekat. Tak hanya di sekolah, kami pun sering pergi bareng di akhir pekan, entah itu main ke taman, belajar di perpustakaan, makan di hawker, hingga main ke toko buku bekas ataupun toko art supply. Di mata saya, ia adalah ekstrovert tulen: riang, aktif, obrolannya menarik, dan kadang kelakuannya random. Namun hal itulah yang membuat saya yang introvert ini tertarik, bahkan suka kepadanya. Secara prestasi di sekolah, ia termasuk yang terpintar di kelas, namun ia tak terlalu ambisius seperti murid Singapura lainnya. Ia bisa saja mendapatkan beasiswa dan masuk ke universitas terbaik di luar Singapura (bahkan U.S.) dan memilih jurusan sains, namun ia memutuskan untuk tetap di Singapura dan mengambil jurusan arsitek setelah lulus di tahun 2011.

Beberapa tahun setelah kami lulus, saya beberapa kali pulang-pergi Singapura dan bertemu dengannya (dan dengan L juga), sebelum kesibukan masing-masing membuat jarak yang lebar di antara kami berdua. Sebelum pandemi, di awal tahun 2020, ia mengabarkan saya bahwa ia tinggal di Australia dan melanjutkan S2 di sana.

Dan itulah terakhir kali saya mendengar kabarnya, sebelum kabar duka tersebut datang.

Apa yang terjadi dengannya selama lima tahun terakhir, atau bahkan selama ia hidup, tetap dan akan selamanya jadi misteri. Pertemanan saya dengan Z bisa dibilang singkat, namun saya dapat mengatakan bahwa Z adalah salah satu teman terbaik saya. Saya berharap saya sudah menjadi teman atau rekan yang baik selama ia menjalani hidup, dan bukan membuatnya menderita dan menjadi salah satu penyebab ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Untuk Z, semoga kamu beristirahat dalam damai. Terima kasih banyak, untuk segalanya.

#Note